SALAM MESSAGE .n_n.

Rabu, 23 Januari 2013

MODEL PEMBELAJARAN/ STRATEGI QUANTUM TEACHING


A. Landasan Teori
Quantum teaching pertama kali dikembangkan oleh De Porter. Mulai dipraktekkan pada tahun 1992, dengan mengilhami rumus yang terkenal dalam fisika kuantum yaitu masa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi. Dengan rumus itulah mendefinisikan Quantum sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.

Pembelajaran Quantum bermakna interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya karena semua energi adalah kehidupan dan dalam proses pembelajarannya mengandung keberagaman dan interdeterminisme. Dengan kata lain interaksi-interaksi yang dimaksud mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.

Belajar kuantum berakar dari prinsip “suggestology” atau “suggestopedia” yang dikembangkan oleh Geogi Lozanov yang menjelaskan bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Artinya, hasil belajar yang dicapai oleh anak didik (pembelajar) akan baik apabila lingkungan, proses, dan sumber-sumber belajar memberikan sugesti positif pada dirinya, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, agar terjadi belajar kuantum, ciptakanlah lingkungan belajar terbaik bagi anak didik. Lingkungan belajar yang dapat menimbulkan pikiran dan sikap positif. Lingkungan belajar yang aman dan mendukung bertumbuh dan berkembangnya kepercayaan dan citra diri anak didik. Lingkungan belajar dengan suasana nyaman, indah, cukup penerangan, dan bila perlu disertai alunan musik, dan dudukung oleh proses belajar yang variatif, banyak terobosan, perubahan, permainan yang edukatif, partisipatif, serta sumber-sumber belajar yang dapat memberi pengalaman yang mampu meningkatkan “AMBAK” dan menimbulkan getaran emosi (emotional thrill) pada diri anak didik, “AHA”.

Lingkungan dan suasana belajar demikian akan mendorong kemunculan sugesti-sugesti positif sehingga menjadi cahaya yang mampu menjadi lokomotif yang dapat membangkitkan energi belajar. Ingatlah rumus yang sangat terkenal dalam fisika kuantum (E = m.c2), energi sama dengan massa kali kuadrat kecepatan cahaya. Pemberian label “belajar kuantum“ sesungguhnya meminjam dari konsep fisika kuantum. Kenyataannya memang benar bahwa tubuh kita secar fisik adalah materi yang memiliki massa dan dilengkapi dengan seperangkat peralatan belajar termasuk otak. Ketika belajar, kita membutuhkan sebanyak mungkin cahaya: kepercayaan diri, minat, motivasi, AMBAK, interaksi, hubungan, kooperasi-kolaborasi, dan inpirasi untuk diubah menjadi energi pembangkit belajar.

Teori yang terkandung dalam Quantum Teaching adalah
1.    Accelerated Learning, yaitu yaitu seperangkat metode dan teknik pembelajaran yang memungkinkan anak didik belajar dengan kecepatan yang mengesankan, tetapi melalui upaya yang normal dan penuh keceriaan. Belajar kuantum  menyatukan permainan, hiburan, cara berpikir dan bersikap positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional yang terpelihara yang dikemas secara sinergi dalam aktivitas pemebelajaran mendorong terjadinya belajar yang efektif sehingga memungkinkan terjadinya percepatan belajar .

2.      Multiple Intelligences, Gambaran ringkas tentang belajar kuantum sebagaimana diutarakan di atas memberi isyarat kepada kita bahwa pembelajaran yang orientasi tujuannya didominasi oleh upaya peningkatan kemampuan kognitif saja, saat ini sudah tidak layak lagi. Hasil penelitian Daniel Goleman  memberi bukti yang cukup mengejutkan bahwa aspek kognitif atau intelektual hanya 20% sumbangannya terhadap keberhasilan seseorang dalam hidupnya, selebihnya yaitu 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional. Artinya kecerdasan emosional dan kecerdasan-kecerdasan lainnya, sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Kenyataan ini mendorong dilakukannya reorientasi tujuan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran seyogyanya dilaksanakan dengan tujuan yang lebih berdeferensiasi mencakup bukan hanya pada upaya peningkatan kecerdasan intelektual, melainkan juga mencakup kecerdasan emosional dan kecerdasan lainnya, karena manusia memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligence), dan belajar kuantum memungkinkan untuk itu, jika dilaksanakan dengan baik dan terencana

3.      Neuro-Linguistic Programming, Belajar kuantum juga terkait dengan aspek-aspek penting dari neurolinguistic program (NLP), yaitu serangkaian penelitian yang mengkaji tentang bagaimana otak bekerja dalam mengatur informasi. Dengan demikian, belajar kuantum menghubungkan dua bidang utama, yaitu hasil-hasil penelitian modern tentang otak yang menakjubkan dengan kekuatan dari kemudahan memperoleh informasi dan pengetahuan. Artinya, untuk membelajarkan anak, kita juga harus belajar bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang sangat brilian dalam diri manusia, hampir tidak terbatas daya atau kemampuannyanya yang terdiri dari milyaran sel dan trilyunan penghubung, yaitu otak. Selain itu, kemudahan dalam menggali informasi dalam berbagai bentuk, hampir semua orang berkesempatan untuk memanfaatkannya, dan menghubungkan setiap orang dalam jaringan global melalui jaringan internet yang disebut learning web, harus kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk mempercepat revolusi pembelajaran melalui informasi dan inovasi. Selanjutnya, merupakan kewajiban kita sebagai guru untuk mengemasnya dalam bentuk aktivitas pembelajaran untuk membelajarkan anak didik

4. Experiential Learning, dan Elements of Effective Instruction. manusia adalah makhluk unik, ia bisa belajar melalui : (1) pendengaran, (2) penglihatan, (3) pengecapan, (4) sentuhan, (5) penciuman, (6) melakukan, (7) hayalan, (8) intuisi, dan (9) perasaan. Semua kemampuan itu harus diberdayakan agar kemampuan-kemampuan itu terlatih sekaligus pembelajaran menjadi lebih efektif. Fleksibilitas metode dan teknik dalam belajar kuantum memungkinkan untuk memberdayakan semua kemampuan itu.. sehingga Quantum Teaching merangkaikan sebuah kekuatan yang memadukan multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak yang didalamnya meramu konsep berbagai teori yaitu:
1) teori otak kanan/kiri;
2) teori otak triune (3 in 1);
3) pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik);
4) teori kecerdasan ganda;
5) pendidikan holistic (menyeluruh);
6) belajar berdasarkan pengelaman;
7) belajar dengan symbol, dan simulasi/permainan.

Selintas tentang Otak dan Cara Kerjanya
Penelitian tentang otak manusia telah dilakukan ratusan bahkan ribuan tahun tahun yang lalu. Perkembangan penelitian yang sangat pesat tentang otak manusia terjadi pada abad keduapuluh khususnya pada tahun 1990-an. Pembahasan pada tulisan ini tidak akan mengupas tentang perkembangan teori tentang otak manusia dari berbagai penelitian yang dihasilkan, tetapi akan lebih menekankan pada teori tentang otak yang paling mutakhir yaitu teori belahan otak dan pembahasannya pun tidak terlalu rinci, karena tulisan ini bertujuan untuk memberikan memancing peserta untuk menelusuri dan mengkaji lebih dalm tentang otak dan cara kerjanya.

Menurut teori belahan otak atau sering disebut teori otak kanan otak kiri, otak terbagi kedalam dua belahan yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan otak ini terdiri dari cerebralcortex atau neocortex termasuk belahan sistem limbic-nya. Kedua belahan otak ini dihubungkan oleh tiga penghubung yaitu Corpus Colasum, Hippocompal Commissure, dan Anterior  Commissure. Belahan otak kiri (left cortex) mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan sedangkan belahan otak kanan (right cortex) mengendalikan bagian tubuh sebelah kiri. Belahan otak kiri berperan dalam kegiatan motorik (motor sequence) sedangkan belahan otak kanan berperan dalam kegiatan berkenaan dengan sonsor-sensor rasa (sensory sequence). Pembagian fungsi berkenaan dengan mental skills untuk memproses dan menyimpan informasi antara belahan otak kanan dengan belahan otak kiri berbeda. Belahan otak kanan berhubungan dengan proses dan penyimpanan informasi tentang gambar, imajinasi, warna, ritme, dan ruang; Dalam kerjanya otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Belahan otak kiri berhubungan dengan bilangan/angka, kata-kata, logika, urutan atau daftar, dan detail atau rincian-rincian. Dalam kerjanya, belahan otak kiri berrsifat logis, sekuensial, linier, dan rasional.

Ada empat karakteristik utama dari otak manusia dalam melaksanakan fungsinya, yaitu:
(1) Spesialisasi; ada pembagian fungsi secara khusus dari bagian-bagian otak. Misalnya, batang otak (otak reptil) memiliki spesialisasi fungsi motor sensori, kelangsungan hidup, hadapi atau lawan; Sistem limbic memiliki spesialisai fungsinya dengan perasaan/emosi, berperan aktif dalam memori, bioritmik dan sistem kekebalan; Neocorteks (otak berpikir) memiliki spesialisasi fungsi berpikir intelektual, penalaran, perilaku waras, logika berbahasa, dan kecerdasan tingkat tinggi.

(2) Keterkaitan; otak penuh dengan berbagai penghubung (connectors) yaitu serat-serat pada otak. Serat-serat ini berfungsi sebagai pembawa pesan yang digunakan oleh berbagai bagian otak yang berbeda untuk digunakan berkomunikasi antara satu dengan lainnya.

(3) Situasional; bagian-bagian otak dengan fungsinya masing-masing bekerja secara situasional sesuai dengan sedang bekerja atau tidaknya bagian otak itu. Misalnya ketika seorang sedang berkhayal maka otak yang berfungsi untuk berkhayal menjalankan fungsinya sedangkan bagian otak lain seperti fungsi berhitung istirahat.

(4) Iterasi; yaitu gerak bolak-balik melalui isyarat-isyarat (signal) diantara pusat-pusat  spesialisasi pada otak baik pada belahan otak yang sama maupun antar kedua belahan otak.
Agar otak bisa bekerja atau belajar dengan baik, maka otak harus sehat. Kondisi eksternal mempengaruhi kondisi internal otak.

Ada empat fungsi dasar otak yang harus difungsinkan dengan benar agar otak sehat, yaitu:
1. Struktur fisik dan lingkungan kimiawinya; otak akan berkerja optimal bila secara fisik sehat dan lingkungan kimiawinya tidak terkontaminasi oleh zat-zat asing seperti alkohol, atau zat-zat adiktif lainnya.

2. Menerima informasi dari waktu ke waktu melalui indra; agar otak bisa bekerja dengan baik maka otak harus difungsikan sebagaimana mestinya dengan cara memperbanyak informasi yang masuk kedalam otak melalui pengamatan indra secara multi-indrawi.

3. Menyimpan informasi masa lalu; Otak menyimpan informasi bukan dalam bentuk baris dan kolom, tetapi dalam bentuk jaringan informasi atau sering disebut peta pikiran. Latihlah otak kita untuk menyimpan informasi-informasi penting yang sudah didapat pada masa lalu dalam bentuk peta pikiran.

4. Mengasosiasikan informasi lama dengan informasi baru; informasi baru hendaknya diasosiasikan dengan informasi lama yang sudah ada sehingga menambah retensi dan informasi menjadi bermakna.
Keempat fungsi dasar itu harus djalankan dengan baik agar otak terlatih. Berbeda dengan barang lain yang mengalami kerusakan atau kerjanya menjadi berkurang apabila sering dipakai, otak justru semakin baik kerjanya apabila sering digunakan. Oleh karena itu, gunakan otak kita untuk belajar sebagaimana fungsinya sebagai pusat belajar.

B. Karakteristik
Secara umum, Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1) Berpangkal pada psikologi kognitif.

2) Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.

3) Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.

4) Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.

5) Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.

6) Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.

7) Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.

8) Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.

9) Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.

10) Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.

11) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.

C. Prinsip Dasar
Prinsip dasar yang terdapat dalam pembelajaran Quantum adalah:
1) konsep “ Theirs to Ours”, Ours to Theirs”
 Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).

2) Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut:
a) Segalanya dari lingkungan. Hal ini mengandung arti baik lingkungan kelas/sekolah sampai bahasa tubuh guru; dari lembar kerja atau kertas kerja yang dibagikan anak sampa rencana pelakanaan pembelajaran, semuanya mencerminkan pembelajaran.

b) Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan semuanya.

c) Pengalaman mendahului pemberian nama. Pembelajaran yang baik adalah jika siswa telah memperoleh informasi terlebih dahulu apa yang akan dipelajari sebelum memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. Ini diilhami bahwa otak akan berkembang pesat jika adanya rangsangan yang kompleks selanjunya akan menggerakkan rasa keingintahuan.

d) Akuilah setiap usaha. Dalam proses pembelajaran siswa seharusnya dihargai dan diakui setiap usahanya walaupun salah, karena belajar diartikan sebagai usaha yang mengandung resiko untuk keluar dari kenyamanan untuk membongkar pengetahuan sebelumnya.

e) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Segala sesuatu yang telah dipelajari oleh siswa sudah pasti layak pula dirayakan keberhasilannya.

3) Pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan. Ada depalapan kunci keunggulan dalam pembelajaran kuantum yaitu:

a) terapkan hidup dalam integritas, dalam pembelajaran sebagai bersikap apa adanya, tulus, dan menyeluruh, sehingga akan meningkatkan motivasi belajar.

b) akuilah kegagalan dapat membawa kesuksesan. Jika mengalami kegagalan janganlah membuat cemas terus menerus tetapi memberikan informasi kepada kita untuk belajar lebih lanjut.

c) berbicaralah dengan niat baik. Dalam pembelajaran hendaknya dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung. Dengan niat bicara yang baik akan mendorong rasa percaya diri dan motivasi.

d) tegaslah komitmen. Dalam pembelajaran baik guru maupun siswa harus mengikuti visi-misi tanpa ragu-ragu.

e) jadilah pemilik, mengandung arti bahwa siswa dan guru memiliki rasa tanggung jawab sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.

f) tetaplah lentur. Seorang guru terutama harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana diperlukan.

g) Pertahankan keseimbangan. Dalam pembelajaran, pertahankan jiwa, tubuh, emosi dan semangat dalam satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif dan optimal.

4) Kerangka Perencanaan Pembelajaran Quantum

Kerangka perencanaan pembelajaran kuantum dikenal dengan singkatan “TANDUR”, yaitu:
a) Tumbuhkan.
Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami.

Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau penasaraan tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan (persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial (komunitas belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu.

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai sebagai acuan guru: hal apa yang siswa pahami? Apa yang siswa setujui? Apakah manfaat dan makna materi tersebut bagi siswa? Pada bagian apa siswa tertari/bermakna?

Stategi untuk melaksanakan TUMBUHKAN tidak harus dengan tanya jawab, menuliskan tujuan pembelajaran dipapan tulis, melainkan dapat pula dengan penyajian gambar/media yang menarik atau lucu, isu muthakir, atau cerita pendek tentang pengalaman seseorang.

b) Alami.
Tahap ini jika kita tulis pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada kegiatan inti. Konsep ALAMI mengandung pengertian bahwa dalam pembelajaran guru harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun siswa sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah.

Pertanyaan yang memandu guru pada konsep alami adalah cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Permainan atau keinginan apa yang memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka miliki? Permainan dan kegiatan apa yang memfasilitasi siswa?

Strategi konsep ALAMI dapat menggunakan jembatan keledai, permainan atau simulasi dengan memberi tugas secara individu atau kelompok untuk mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki.

c) Namai
Konsep ini berada pada kegiatan inti, yang NAMAI mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak (membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman) untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dalam hal ini adalah mengajarkan konsep, melatih keterampilan berpikir dan strategi belajar. Pertanyaan yang dapat memenadu guru dalam memahami konsep NAMAI yaitu perbedaan apa yang perlu dibuat dalam belajar? Apa yang harus guru tambahkan pada pengertian siswa? Strategi, kiat jitu, alat berpikir apa yang digunakan untuk siswa ketahui atau siswa gunakan?

Strategi implementasi konsep NAMAI dapat menggunakan gambar susunan gambar, warna, alat Bantu, kertas tulis dan poster di dinding atau yang lainnya.

d) Demonstrasikan
Tahap ini masih pada kegiatan ini. Inti pada tahap ini adalah memberi kesempatan siswa untuk menunjukkan bahwa siswa tahu. Hal ini sekaligus memberi kesempatan siswa untuk menunjukkan tingkat pemahaman terhadap materi yang dipelajari.

Panduan guru untuk memahami tahap ini yaitu dengan cara apa siswa dapat memperagakan tingkat kecakapan siswa dengan pengetahuan yang baru? Kriteria apa yang dapat membantu guru dan siswa mengembangkan bersama untuk menuntut peragaan kemampuan siswa.

Strategi yang dapat digunakan adalah mempraktekkan, menyusun laporan, membuat presentasi dengan powerpoint, menganalisis data, melakukan gerakan tangan, kaki, gerakan tubuh bersama secara harmonis, dan lain-lain.

e) Ulangi
Tahap ini jika kita tuangkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran terdapat pada penutup. Tahap ini dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Kegiatan ini dilakukan secara multimodalitas dan multikecerdasan.

Panduan guru untuk memasukan tahap ini yaitu cara apa yang terbaik bagi siswa untuk mengulang pelajaran ini? Dengan cara apa setiap siswa akan mendapatkan kesempatan untuk mengulang?
Strategi untuk mengimplementasikan yaitu bias dengan membuat isian “aku tahu bahwa aku tahu ini” hal ini merupakan kesempatan siswa untuk mengajarkan pengetahuan baru kepada orang lain (kelompok lain), atau dapat melakukan pertanyaan – pertanyaan post tes.

f) Rayakan
Tahap ini dituangkan pada penutup pembelajaran. Dengan maksud memberikan rasa rampung, untuk menghormati usaha, ketekunan, dan kesusksesan yang akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar lebih lanjut.

Panduan pertanyaan dalam diri guru untuk melaksanakan adalah untuk pelajaran ini, cara apa yang paling sesuai untuk merayakannya? Bagaimana anda dapat mengakui setiap orang atas prestasi mereka?

Strategi yang dapat digunakan adalah dengan pujian bernyanyi bersama, pesta kelas, memberikan reward berupa tepukan.

Kegiatan Pembelajaran untuk Mewujudkan Belajar Kuantum
Bagaimana kegiatan pembelajaran seyogyakan dilakukan agar terjadi belajar kuantum? Terkait dengan pertanyaan tersebut,  ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran agar efektif atau terjadi belajar kuantum, yaitu:

1.    Learning is most effective when it’s fun (Peter Kline).
Ciptakanlah suasana yang menyenangkan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Pecahkan berbagai kendala belajar yang dialami oleh anak didik. Arahkan mereka untuk bertumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri dan tidak muncul. Tampilkan suasana hati kita sebagai guru yang positif dan raihlah minat siswa. Jangan mengendalikan anak didik tapi jadilah pengasuh yang baik (ingat bagaimana Anda belajar secara kuantum ketika bertumbuh dan berkembang secara mengagumkan pada rentang usia 0 hingga 6 tahun di bawah asuhan orang tua).

2.    To learn it, do it (Robert C. Schank)
Jika belajar hanya dengan cara mendengarkan maka konten yang dipelajari akan mudah lupa, jika dengan cara melihat mungkin akan ingat tetapi belum tentu bisa, jika dengan cara melakukan maka seluruh indera kita bekerja secara aktif sehingga akan lama diingat dan pasti bisa. Oleh karena itu, lakukanlah kegiatan belajar itu dengan melibatkan anak secara aktif bukan hanya sekedar fisik tetapi aktif secara mental-emosional. Ciptakanlah alat peraga yang memungkinkan anak bisa bereksplorasi dengan melakukan berbagai hal terkait dengan materi yang diajarkan. Bila perlu dan memungkinkan, bawalah objek sesungguhnya yang dipelajari ke dalam kelas atau bawalah anak didik ke lingkungan yang relevan dengan bahan yang dipelajari.

3.    Your brain is like a sleeping giant (Tony Buzan)
Pelajarilah berbagai hasil penelitian mutahir tentang cara kerja otak. Ubahlah pengetahuan kita tentang itu semua ke dalam tindakan kita saat membelajarkan anak. Kembangkanlah kemampuan otak anak secara maksimal melalui pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir analitis, kritis, dan pemecahan masalah. Jangan biarkan otak anak didik kita terbaring terus dalam tidur yang panjang, atau jangan biarkan otak anak bekerja sambil terkantuk-kantuk. Perhatikan agar kemampuan belahan otak kanan dan kiri anak bisa berkembang secara seimbang.

4.    The traditional education system is Obsolute (Richard L. Measelle)
Dewasa ini kegiatan pembelajaran lebih cenderung bersifat tertutup dan mutlak. Jika guru bertanya dan siswa menjawab tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka guru akan menyalahkan seolah-olah jawaban yang benar itu mutlak/tertutup dan tidak ada alternatif jawaban lain. Perlu diingat bahwa: “Anak didik tidak pernah salah dalam menjawab pertanyaan, mereka menjawab sesuai dengan persepsinya atas pertanyaan tersebut. Tugas kita adalah mencari pertanyaan yang benar untuk jawaban tersebut.” Ciptakanlah pembelajaran yang terbuka (divergen) agar berkembang kemampuan berpikir kreatif anak.

5.    Six main pathways to the brain : we learn by what we see, what we hear, what we taste, what we touch, what we smell, and what we do (Gordon Dryden)
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru cenderung lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga para siswa belajar hanya dengan mengandalkan kemampuan menyerap informasi melaui pendengaran saja, padahal setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda sesuai dengan kemampuan belajar yang menonjol pada dirinya (auditory, visual, dan bodilykinestetics). Lebih parah lagi, secara umum terjadi ketika kita melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode ceramah, kita menyampaikan presentasi dan eksplanasi yang cenderung “berbicara kepada siswa” ketimbang “berbicara dengan siswa”. Akibatnya, paling tidak (1) komunikasi menjadi satu arah, (2) siswa pasif menerima informasi dan terkesan seperti tong kosong yang siap diisi dengan berbagai informasi yang mungkin saja tidak sesuai dengan harapannya, (3) pembelajaran menjadi teacher center, (4) potensi intelektual, personal, dan sosial siswa  kurang bertumbuh dan berkembang, (5) kurang memacu keterampilan berpikir siswa, (6) kecil kemungkinan terjadi self-discovery learning, dan     (7) kepercayaan diri siswa melemah. Semua itu menyebabkan hasil belajar yang dicapainya tidak maksimal. Oleh karena itu, ciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan semua kemampuan belajar siswa berkembang.

6.    An idea is a new combination of old elements (Gordon Dryden)
Guru seringkali memaksakan konsep atau materi baru yang diajarkan tanpa mempertimbangkan pengetahuan yang telah dimiliki anak. Padahal manusia belajar dan membangun pengatahuannya atas dasar pengetahuan yang sudah dimilikinya. Lakukanlah pembelajaran dimulai dari apa yang sudah diketahui siswa.

Mencermati beberapa pemikiran cemerlang di atas dan kaitannya dengan penyelenggaran pembelajaran, maka kita yakin bahwa :
(1) semua anak bisa belajar apapun jika mereka senang melakukannya,
(2) bagi anak berbakat (bakat intelektual) belajarnya bisa dipercepat (accelerated learning) jika suasana belajar kondusif untuk terjadinya percepatan belajar,
(3) pembelajaran bukan hanya mampu meningkatkan kemampuan atau kecerdasan intelektual anak tetapi juga kecerdasan multiple anak.

Metode pembelajaran yang bagaimanakah yang paling baik untuk terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien? Tentu saja tidak ada metode yang paling baik, karena metode pembelajaran sangat terkait dengan karakteristik materi pelajaran, sarana dan keterampilan guru dalam melaksanakannya. Pada prinsipnya, quantum learning menuntut diselenggarakannya kegiatan pembelajaran yang bersifat multi-method dan multi-threat. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan ke depan disarankan mengunakan metode pembelajaran yang bersifat integratif yang mampu membangkitkan seluruh energi pada diri anak didik untuk belajar, salah satu contoh misalnya pembelajaran kooperatif–kolaboratif.

Bagaimana strategi pembelajaran yang harus kita rancang agar dapat mebangkitkan energi belajar pada diri anak didik? Berikut ini disajikan strategi umum yang pada penerpannnya dapat dikembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi. Strategi yang dimaksud adalah:

1.    Kegiatan pra-instruksional
Keberhasilan guru dalam membelajarakan anak didik diawali dari aktivitasnya dalam mengawali kegiatan pembelajaran (kegiatan pra-instruksional). Apabila pada kegiatan pra-instruksional ini, guru mampu membangkitkan energi belajar pada diri anak didik, maka keberhasilannya dalam membelajarkan anak didik sudah di depan mata. Sebaliknya akan gagal jika pada kegiatan awal guru tidak mampu membangkitkan energi belajar tersebut. Oleh karena itu, strategi yang harus disiasati guru pada kegiatan pra-instruksional adalah mengidentifikasi berbagai alternatif aktivitas maupun ungkapan verbal yang cocok dengan usia anak didik yang dihadapi serta relevan dengan bahan pembelajaran yang akan disampaikan, kemudian dikemas dengan apik dan cermat untuk disajikan mengawali proses pembelajaran.

Suatu bentuk aktivitas pra-instruksional itu dakatakan cocok apabila berdasarkan pemikiran rasional maupun pengalaman empirik sebelumnya, aktivitas tersebut teruji dapat membangkitkan energi belajar berupa:

1)   Kepercayaan diri anak didik, mereka meyakini bahwa dirinya dapat berhasil menguasai bahan yang akan dipelajarinya “saya pasti bisa”.

2)   Meraih minat anak didik, melalui aktivitas dan ungkapan-ungkapan yang disampaikan guru menimbulkan  minat dan rasa ingin tahu yang besar pada diri anak didik.

3)   Menciptakan AMBAK, mereka juga meyakini bahwa apa yang akan dipelajarinya memberi manfaat bagi dirinya.

4)   Mendorong timbulnya motivasi belajar yang tinggi pada diri anak didik.

5)   Mengaktifkan mental perancah (scaffolding), apa yang sudah diketahui anak sebelumnya merupakan bahan pengait yang akan menjadi mental perancah guna menguasai bahan pembelajaran baru.

Aktivitas untuk membangkitkan itu semua dapat dilakukan melalui beragam permainan, cerita pengantar diskusi, teka-teki, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Prinsipnya hindari aktivitas atau ungkapan verbal yang dapat menimbulkan kontra-produktif.

2.    Kegiatan Utama
Apabila kegiatan pra-instruksional telah berhasil membangkitkan energi belajar sehingga anak didik siap untuk belajar bahan pembelajaran baru, maka langkah selanjutnya adalah merancang kegiatan inti yang memungkinkan anak belajar dalam suasana yang aman, gembira, menyenangkan (tidak tertekan) namun menantang. Bahan pembelajaran baru yang dimaksud meliputi: 
(1) pengetahuan (knowledge),  
(2) keterampilan (skills) baik keterampilan motorik, berpikir, dan berbicara, 
(3) sikap dan nilai (attitude), serta 
(4) Pembiasaan bertindak yang didasari oleh integritas kepribadian yang tinggi.

Kegiatan pembelajaran utama pada intinya harus memuat: 
(1) Penjelasan disertai ilustrasi, analogi, dan metafora yang relevan dengan bahan ajar dan cocok dengan perkembangan intelektual dan emosional anak. Dalam hal ini, usahakan agar terjadi interaksi multi-arah. Artinya jangan sampai terjadi dominasi ada di pihak guru. Lakukanlah teknik “berbicara dengan siswa” bukan “berbicara kepada siswa”. 
(2) Pemberian contoh dan non-contoh untuk memantapkan pemahaman anak terhadap bahan pembelajaran yang disampaikan. 
(3) Pemberian latihan yang dapat mengembangkan pemahaman anak terhadap bahan pembelajaran. Mulailah latihan dari hal-hal yang sederhana, dan berilah kesempatan anak yang memiliki potensi lebih pada bidang studi tersebut untuk berlatih lebih banyak. 
(4) Praktik  untuk membiasakan anak menggunakan apa yang sudah dipelajari ke dalam tindakan-tindakan nyata.

Pada praktiknya, guru dituntut untuk melakukan kegiatan utama ini dengan multi-traits, multi-methods, dan multi-games, sehingga melahirkan lingkungan yang kondusif bagi anak untuk belajar dan mengembangkan seluruh potensinya secara optimal. Guru bisa mengadopsi berbagai permainan dari berbagai media dan memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan untuk digunakan sebagai teknik pembelajaran di kelas .

3.    Kegiatan Penutup
Kegiatan ini merupakan bagian untuk mengevaluasi keberhasilan guru dalam membelajarkan anak didik dan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kegiatan penutup ini juga merupakan sarana bagi guru maupun anak didik untuk mendapatkan umpan balik (feedback) dan penetapan tindak lanjut yang harus dilakukan guru untuk memperbaiki kelemahan, kesulitan dan kekurangan anak didik, serta memperbaiki program pembelajarannya.

E-LEARNING
 Adalah pembelajaran dengan penggunaan computer di kelas. Alasan mengapa computer digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif:
  1. Komputer menjadi unsure yang efektif untuk melakukan hal secara tepat dan tepat.
  2. Harga dan ukurannya secara dramatis menjadi lebih murah dari tahun-tahun sebelumnya
  3. Komputer sudah digunakan secara luas untuk kepentingan masyarakat.
Taylor (dalam Djiwando 2000:254) secara umum komputer dapat digunakan dengan tiga cara yaitu:
  1. Tool (Sebagai alat)
  2. Tutor (Sebagai pembanding)
  3. Tutor (Sebagai siwa)
Komputer memiliki kemampuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menyajikan informasi serta ide-ide melalui stimulus visual dan pendengaran, serta melengkapi siswa dengan pengalaman kinestetik.

Penggunaan komputer di kelas disebut CAI (Computer Assisted Instruction). Ada 4 macam jenis perangkat lunak CAI:
Drill n practice
Tutorial
Simulasi
Pengajaran dengan pimpinan komputer

MASALAH BELAJAR
1.         ARTI MASALAH BELAJAR
adalah suatu kondisi yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan belajar; baik yang disadari, tidak disadari, bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosiologis.

2. CIRI-CIRI KESULITAN BELAJAR
  1. hasil belajar dibawah “passing grade”
  2. hasil belajar dibawah potensi yang dimilikinya
  3. hasil belajar tidak sebanding dengan usahanya
  4. lambat dalam melakukan tugas belajar
  1. menunjukkan sikap yang kurang/tidak wajar (misalnya : acuh tak acuh, menentang, berpura-pura )
  2. Menunjukkan prilaku yang kurang/tidak wajar ( misalnya : membolos, sering datang terlambat, tidak mengerjakan tugas
  3. Menunjukkan gejala emosional yang tidak/kurang wajar ( misalnya : mudah marah, mudah tersinggung, murung )

Penggolongan masalaah belajar (Amti, 1991:67)
·      Sangat cepat dalam belajar
·      Keterlambatan akademik
·      Lambat belajar
·      Penempatan kelas
·      Kurang motif dalam belajar
·      Sikap dan kebiasaan belajar yang buruk
·      Kehadiran di sekolah

3. LATAR BELAKANG KESULITAN BELAJAR
1. Dari diri sendiri
a. Faktor intern
   1) Kelemahan fisik
                        a) Kurang berfungsinya   panca indera
                         b) Sakit
                         c) Cacat tubuh/pertumbuhan yang kurang sempurna
2) Kelemahan mental baik bawaan maupun  
    pengalaman (misal : IQ rendah, gangguan mental)
3) Kelemahan emosional (misalnya : immaturity, pobia)
4) Kebiasaan dan sikap yang salah ( misalnya bamyak melakukan tindakan yang tidak relefan,      sering bolos, sering tidak masuk)
5) Tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan

b. Faktor eksternal
·      terlampau berat beban belajar
·      sering pindah sekolah
·      terlampau banyak kegiatan di luar kelas

2.  Dari lingkungan sekolah dan masyarakat
·      kurikulum yang tidak sesuai dengan  karakteristik siswa
·       kelemahan dalam sistem instruksional
·      guru kurang menguasai bahan pelajaran
·      Metode pengajar kurang sesuai
·      ala-alat dan media pengajaran kurang memadai

3.  Dari lingkungan keluarga
·      Kemampuan ekonomi orang tua yang kurang memadai
·      Anak kurang mendapat pengawasan dan perhatian dari orang tua
·      Harapan orang tua terlalu tinggi terhadap anak
·      Orang tua pilih  kasih
·      Hubungan keluarga tidak harmonis
           
PENDEKATAN TERHADAP KESULITAN BELAJAR
Kesulitan belajar bukan hanya masalah instruksional-paedagogis tetapi juga masalah psikologis, karena kesulitan belajar berakar dari aspek psikologis terutama gangguan kepribadian dan penyesuaian diri oleh karena itu bantuan yang diberikan disamping bersifat instruksional-paedagogis juga diperlukan bantuan psikologis yang bersifat terapiutik.

TEKNIK PENGUNGKAPAN KESULITAN BELAJAR
  1. Observasi
  2. Tes hasil belajar
    1. PAN
    2. PAP
  3. Tes diagnostik
  4. Tes bakat/minat
  5. Angket/kuesioner

UPAYA PENANGANAN KESULITAN BELAJAR
  1. Penanganan  secara instruksional paedagogis
            a. pembelajaran ulang
            b. program pengayaan
            c. pembelajaran individual
            d. penyediaan pelajaran pilihan
2. Penanganan secara psikologis melalui layanan BP yang bersifat terapiutik


SUMBER : Arsip Kuliah Aya. Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Trims ya sudah berkenan ninggalin jejak di Memories of My Life .n_n.