SALAM MESSAGE .n_n.

Rabu, 23 Januari 2013

TEORI-TEORI BELAJAR


1.      Teori Belajar Behavioristik
  1. E.L.Thorndike : The Law of Effect
Teorinya dikenal sebagai connectionism ( pertautan,pertalian ) karena dia berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses “ stampling in “ ( diingat ), forming. Hubungan antara stimulus dan respons.

Thorndike mengembangkan teorinya dari penelitian yang intensif pada binatang yaitu kucing yang ia tempatkan di “puzzle box”-kurungan kecil dengan pintu yang akan terbuka jika kucing menarik tali yang tergantung dalam kurungan. Tugas kucing ialah keluar dari kurungan untuk mendapatkan makanan ( hadiah ) yang ditempatkan diluar kurungan. Setelah beberapa percobaan, kucing memusatkan tingkah lakunya di sekeliling tali, akhirnya menarik tali, pintu terbuka, dan mendapatkan makanan.

Thorndike menerangkan proses belajar sebagai berikut :
Sesudah kucing mendapatkan respons yang benar dan mendapatkan hadiah, hubungan terjadi perlahan-lahan untuk memperkuat stimulus dan respons. Dari percobaan ini, Thorndike mengambil kesimpulan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan atau koneksi antara stimulus dan respons dan penyelesaian masalah ( problem solving ) yang dapat dilakukan dengan cara trial and error ( coba-coba ). Factor penting yang mempengaruhi semua belajar adalah reward atau “ pernyataan kepuasan dari suatu kejadian “. Dalam penulisan kemudian, Thorndike menemukan bahwa hukuman tidak penting. Hukuman akan memeperlemah ikatan dan tidak mempunyai efek apa-apa, berbeda dengan hadiah (reward).

Law of exercise ( hukum latihan ) adalah prinsip belajar yang kedua, yang dinyatakan hubungan S dan R akan menjadi semakin kuat dengan makin sering R ( respons ) dilaksanakan terhadap S ( stimulus ). Dengan latihan berkali-kali hubungan S dan R makin kuat. Dia juga memodifikasi dalam penulisan berikutnya karena ia menemukan bahwa latihan tanpa hadiah tidak efektif. Hubungan diperkuat hanya oleh latihan yang mendapatkan hadiah.

Dengan demikian menurut Thorndike jika suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu di ulangi dalam situasi yang mirip akan meningkat. Jadi, konsekuensi dari prilaku seseorang pada suatu saat memegang peranan penting dalam memutuskan perilaku selanjutnya.

  1. B.F.Skinner : Operant Conditioning
Skinner memandang hadiah (reward ) atau reinforcement ( penguatan ) sebagai unsure yang paling penting dalam proses belajar. Skinner memilih istilah reinforcement daripada reward karena reward diinterpretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dighubungkan dengan kesenangan, sedangkan reinforcement adalah istilah yang netral.

Penemuan Skinner memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuaen. Contoh jika tingkah laku individu segera diikuti oleh konsekuensi menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin. Konsekuen menyenangkan akan memperkuat tingkah laku , sementara konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku. Jadi, konsekuen yang menyenangkan akan bertambah frekuensinya, sementara konsekuensi yang tidak menyenangkan akan berkurang frekuensinya.

Respondensdent merupakan tingkah laku yang timbul bila ada stimulus tertentu mendahuluinya. Respondent diperoleh dengan stimuli khusus seperti bel pada Pavlow. Pavlow menemukan bahwa seorang individu dapat belajar dengan memasangkan hubungan stimuli. Respondent conditioning terbentuk dengan penyampaian stimulus baru berulang-ulang dan berpasangan dengan stimulus yang biasa menimbulkan respondent.

Operant ( perilaku diperkut jika akibatnya menyenangkan- belajar giat jika mengakibatkan nilai bagus ) merupakan tingkah laku yang ditimbulkan oleh organism itu sendiri. Operant belum tentu didahului oleh stimuli dari luar. Operant conditioning dikatakan telah terbentuk bila dalam frekuensi terjadi tingkah laku operant yang bertambah atau bila timbul tingkah laku operant yang tidak tampak sebelumnya. Frekuensi terjadinya tringkah laku operant ditentukan oleh akibat tingkah laku ini.

C. Ivan Pavlow : Classical Conditioning
Ivan Pavlow ( 1849-1936 ) tidak sengaja sampai pada penemuan terhadap fenomena belajar selama praktik dengan anjing dalam laboratoriumnya. Pavlow mengidentifikasi makanan sebagai unconditioned stimulus ( US ) dan air liur sebagai unconditioned respons ( UR ) atau respons tak bersyarat. Unconditioned stimulus ( US ) atau perangsang tak bersyarat atau perangsang alami, yaitu perangsang yang secar alami dapat menimbulkan respons tertentu, misalnya makanan bagi anjing dapat menimbulkan air liur; perangsangan bersyarat atau conditioned stimulus ( CS ), yaitu perangsang yang secara alami tidak dapat menimbulkan respons tertentu, tetapi melalui proses persyaratan dapat menimbulkan respons tertentu, misanya suara lonceng yang dapat menimbulkan keluarnya air liur. Respons bersyarat atau unconditioned respons ( CR ), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang bersyarat ( bel ).

2.      Teori Belajar Kognitif
Ahli-ahli teori kognitif berpendapat bahawa belajar adalah hasil dari usaha kita untuk dapat mengerti dunia

Ahli teori tingkah laku dan ahli teori kogniitf berpendapat, reinforcement penting dalam belajar, tetapi alasan mereka berbeda. Ahli teori tinngkah laku yang kaku menyatakan bahwa reinforcement memperkuat respons, sementara ahli teori kognitif melihat reinforcement sebagai sumber umpan balik ( feedback ). Umpan balik ini memberi informasi tentang apa yang barangkali terjadi jika tingkah laku itu di ulang. Dalam pandangan teori kognitif, reinforcement untuk siswa adalah mengurangi ketidaktentuan dalam mencapai suatu penguasaan perasaan dan pengertian. Dengan kata lain, reinforcement datang dari gagasan pengertian untuk menyemmpurnakan tujuan.

Pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka berinisiatif mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengoganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pelajaran baru. Meskipun secara pasif dipengaruhi oleh lingkungan, orang akan aktif memilih, memutuskan, mempraktikan, memeperlihatkan, mengabaikan, dan membuat banyak respons lain untuk mengejar tujuan. Satu hal paling penting yang mempengaruhi dalam proses ini adalah apa yang individu pikirkan dalam situasi belajar. Ahli-ahli psikologi kognitif menjadi lebih berminat dalam peranan pengetahuan dalam belajar. Apa yang telah kita ketahui menentukan seberapa luasnya apa yang akan kita pelajari, yang kita ingat, dan yang kita lupakan.

Bransford ( 1989 ) menguraikan singkat tentang teori kognitif. Yang penting dalam hal ini ialah bagaimana orang belajar, mengerti dan mengingat informasi, dan mengapa beberapa orang dapat melakukan dengan baik dan yang lain tidak.
  
3.      Teori Belajar Humanistik
Teori – teori belajar sejauh ini telah menekankan peranan lengkungan dan factor-faktor kognitif dalam proses belajar-mengajar. Walaupun teori secara jelas menunjukkan bahwa belajar dipengaruhi oleh bagaimana siswa-siswa berpikir dan bertindak, teori-teori tersebut juga jelas-jelas dipengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari pengalaman belajar mereka.

Ahli-ahli teori humanistic menunjukkan bahwa (1) tingkah lakuindividu pada mulanya ditentukan oleh bagaiman mereka merasakan dirinya sendiri dan dunia sekitarnya, dan (2) individu bukanlah satu-satunya hasil dari lingkungan mereka seperti yang dikatakan oleh ahli teori tingkah laku, melainkan langsung dari dalam ( internal ), bebas memilih, dimotivasi oleh keinginan untuk aktualisasi diri ( self-actualization ) atau memenuhi potensi keunikan mereka sebagai manusia.

A.    Arthur Combs
Arthur Combs menjelaskan bagaimana persepsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah laku. Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistic mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan tujuan-tingkah laku inner ( dari dalam ) yang membuat orang berbeda dari orang lain. Untuk mengerti orang lain, yang penting adalah melihat dunia sebagai yang dia lihat, dan untuk menentukan bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia atau tentang dunianya.

B.     Maslow
Maslow (1968 ) berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk tingkat yang paling rendah yaitu tingkat untuk biasa survive atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan inilah kebutuhan yang paling penting. Tetapi jika manusia secara fisik terpenuhi kebutruhannya  dan merasa aman, mereka akan distimuli untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dicintai dan kebutuhan akan harga diri dalam kelompok mereka sendiri. Jika kebutuhan ini terpenuhi orang akan kembali mencari kebutuhan yang lebih tinggi lagi, prestasi intelektual, penghargaan estetis dan akhirnya self-actualization.

C.    Rogers
Carl Rogers ( 1969, 1983 ) adalah ahli psikologi humanistic yang mempunyai ide-ide yang mempengaruhi pendidikan dan penerapannya.

Pendekatan Rogers dapat dimengerti dari prinsip-prinsip penting belajar humanistic yang didentifikan sebagai sentral dari filsafat pendidikannya.
1)      keinginan untuk belajar ( The Desire to Learn )
2)      Belajar secara signifikan ( significant learning )
3)      Belajar tanpa ancaman ( Learning without threat )
4)      Belajar atas inisiatif sendiri ( self-initiated learning )
5)      Belajar dan berubah

4 . Teori Belajar sosial
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandara ( 1969 ). Teori ini menerima sebagian besar prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat pada perilaku dan pada proses mental internal. Jadi dalam teori belajar sosial akan digunakan penjelasan-penjelasan inforsemen eksternal dan penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana seseorang belajar dari orang lain.

Belajar sosial mengindahkan permodelan yaitu meniru dari orang lain, dan belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain. Dalam arti manusia belajar dari model. Menurut bandara ada empat fase belajar dari model, yaitu fase perhatian, fase retenasi, fase reproduksi dan fase motivasi. 

SUMBER : Arsip Kuliah Aya.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar